IKATAN NASIONAL TENAGA AHLI KONSULTAN INDONESIA (INTAKINDO) Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO), adalah organisasi profesi baru, yang dibentuk pada tanggal 14 September 2004. Sebagai organisasi profesi, INTAKINDO menghimpun berbagai keahlian yang berorientasi pada kesamaan pekerjaan (okupasi atau jabatan). Di dalam proses untuk menegakkan eksistensinya, ternyata corak organisasi ini mendapatkan tantangan yang sangat besar. Pertanyaannya, apakah INTAKINDO dapat disebut kompeten untuk digolongkan sebagai organisasi profesi? Argumentasi dasarnya, adalah bahwa organisasi profesi selalu didasarkan pada 'knowledge-base' yang sama. Sedangkan INTAKINDO menghimpun berbagai basis 'knowledge' tersebut. Tekanan semantikal ini, ternyata sangat merepotkan. Terutama karena tekanan ini datang dari wakil asosiasi-asosiasi profesi lain yang memilki kapasitas untuk melakukan penilaian (mengakreditasi) INTAKINDO di dalam lingkungan usaha jasa konstruksi (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi/LPJK). Untuk melalui proses penilaian, akhirnya INTAKINDO diwajibkan untuk menyampaikan kajian akademis tentang perlu tidaknya eksistensi organisasi seperti INTAKINDO ini.
Mencari sumber-sumber akademis yang dapat digunakan sebagai acuan tentang masalah-masalah asosiasi profesi di Indonesia ternyata tidak mudah. Sebabnya, ternyata karena orientasi kajian tentang lembaga-lembaga (institusi) sosial di Indonesia masih terlalu bernuansa empirik, yaitu suatu cara pendekatan yang mencoba melihat sesuatu apa adanya. Secara umum, penilaian terhad (Selengkapnya !)
Membangun Keahlian??
Salah satu tugas yang diamanatkan oleh pendiri INTAKINDO, adalah agar INTAKINDO mampu melaksanakan pengembangan keahlian para tenaga ahli yang bekerja sebagai konsultan. Dari tugas ini, ada dua jenis keahlian yang secara umum dapat dibedakan. Keahlian di dalam disiplin keteknikan di satu pihak, dan keahlian dalam disiplin ekonomi, sosial dan budaya di pihak lain. Untuk keahlian teknikal, mau tidak mau, orientasi yang harus menjadi acuan, adalah ke negara-negara maju yang telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan untuk disiplin ekonomi, sosial dan budaya, justru harus berangkat dari titik tolak sesuai pemahaman tentang 'kepentinga (Selengkapnya) | Mengukur (men-sertifikasi) Keahlian
Dalam iklim sosial politik yang cenderung empirik strukturalistik, peranan organisasi masyarakat, cenderung dicurigai dan diduga kuat akan menjadi sub-struktur yang oportunistik dan parasitis. Demikian juga dengan kegiatan sertifikasi keahlian yang akhir-akhir ini menjadi program yang populer. Kecurigaan bahwa sertifikasi akan menjadi sesuatu kesia-siaan (inefiensi) baru, dan menjadi wilayah kepentingan pihak tertentu, adalah suatu yang harus dapat ditepis. Tuntutan untuk tidak melakukan sertifikasi secara asal-asalan, adalah satu kontrak organisasi yang harus dilaksanakan. Salah satunya, adalah bagaimana sistem sertifikasi ini terkait dengan pembinaan keah (Selengkapnya)
| Organisasi Berbasis Anggota sebagai Sistem Sosial
Tekanan dari Tim Akreditasi LPJK agar INTAKINDO menyusun suatu kajian akademis mengenai peranan organisasinya, ternyata merupakan dorongan untuk membangun suatu pemahaman yang mengarah pada suatu kontrak organisasi - khususnya kontrak secara interen. Suatu organisasi yang berbasis pada keanggotaan, sudah selayaknya bermanfaat bagi anggotanya dan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Suatu manajemen organisasi yang berbasis keanggotaan sebagai suatu sistem sosial, harus di-benchmark dari pengalaman-pengalaman yang telah dicapai oleh negara-negara maju. Ini suatu bentuk manajemen yang masih baru di tataran nasional, dan memerlukan uji coba secara k(Selengkapnya) |
|